3.18.2010

Mangkuk Cantik, Madu dan Sehelai Rambut

Rasulullah saw. dengan sahabat-sahabatnya seperti Abu Bakar r.a, Umar r.a, Utsman r.a, bertamu ke rumah Ali ra. Di rumah Ali ra, Istrinya  Sayyidatina Fathimah r.a, putri Rasulullah saw menghidangkan untuk mereka madu yang diletakan di dalam sebuah mangkuk yang cantik, dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan sehelai rambut terikut kedalamnya.

Baginda Rasulullah saw. kemudian meminta kesemua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut, mangkuk yang cantik, madu dan sehelai rambut.

Abubakar r.a. berkata : ”Iman itu lebih cantik dari pada mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman lebih susah dari meniti sehelai rambut”.

Umar r.a berkata : ”Kerajaan itu lebih cantik dari pada mangkuk yang cantik ini, seorang raja lebih Manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Utsma r.a berkata : ”Ilmu itu lebih cantik dari pada mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu ini, dan beramal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Ali r.a berkata : ”Tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamu tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang kerumahnya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Fatimah r.a berkata : ”Seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang berpurdah (menutup wajahnya) itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seoarang wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Rasulullah saw. Berkata : ”Seorang yang mendapat taufiq untuk beramal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, beramal dengan amal baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat amal dengan ikhlas adalah lebih susah dari meniti sehelai rambut”.

Malaikat Jibril A.S berkata :”Menegakan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik, menyerahkan diri, harta, dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”

Allah SWT berfirman : ”Surga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat surga-Ku itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju surga-Ku adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Wassalam
Naritha Vermasari
Busana Muslim Attaqi | Dienazty Fashion Center

1.29.2010

Life Is Beautiful

Hidup ini memerlukan seni supaya bisa berjalan dengan indah alias bisa dinikmati senikmat kita menyeruput teh hangat sambil makan pisang goreng di pagi hari. Ada buku menarik yang menyampaikan tentang hal ini yang berjudul ”Life Is Beautiful : sebuah jendela untuk melihat dunia” yang ditulis Bang Arvan Pradiansyah, yang tulisan renyahnya bisa kita ikuti salah satunya di majalah SWA.

Kali ini saya akan mengulasnya kembali sebagiannya saja sebagai sebuah pembelajaran bagi kita semua di tengah kerumitan hidup yang dialami sebagian besar bagian stake holder dari negeri ini. Hidup ini terlalu indah untuk diisi dengan perbuatan yang sia-sia, tidak bermanfaat, ada pendzaliman didalamnya dan bahkan permusuhan yang tiada henti-hentinya.

Suatu kondisi, peristiwa atau hal yang sama bisa mendapatkan respon yang berbeda dari masing-masing orang. Respon mana yang kita pilih akan menentukan apakah kita menjadi orang yang bahagia ataukah tidak. Dengan kata lain, kebahagiaan sebenarnya lebih ditentukan oleh diri kita sendiri, bukan oleh orang lain atau sesuatu yang berada diluar diri kita.

Kita mungkin tidak bisa mengontrol hal-hal yang terjadi di luar kehendak kita, tapi kita bisa memilih bagaimana cara menyikapinya yang paling arif. Hal ini bisa diartikan bahwa “hidup yang indah adalah sebuah gaya hidup”.

Setiap orang adalah pemimpin di muka bumi, paling tidak pemimpin bagi dirinya sendiri. Dan setiap orang akan dihadapkan pada pilihan-pilihan setiap harinya dalam mengarungi kehidupan ini. Apakah akan menyia-nyiakan waktu, berbuat baik atau jahat, banyak memberi atau banyak menerima dan sebagainya. ”Akan menjadi apakah kita, akan banyak ditentukan oleh pilihan kita sendiri”.

Bila kita ingin bahagia, kita perlu merespon setiap kondisi dan peristiwa dengan fikiran dan hati yang bersih. Kesabaran, toleransi, menyayangi sesama dan keikhlasan merupakan sebagian modal untuk menjadi orang yang bahagia. Kepasrahan kepada Allah SWT juga membuat kita menjadi bahagia. Dan perlu dicatat, kepasrahan bukan berarti manusia yang tidak mau berusaha. ”Kepasrahan berarti berupaya semaksimal mungkin, tapi menyerahkan hasilnya kepada kehendak Allah SWT”.

”Manusia hanya berhak dalam prosesnya dan Allah-lah yang menentukan hasilnya”. Dan juga ada hukum alam yang pasti terjadi : bila kita melakukan hal baik, maka hal baik akan kembali pada kita. Sebaliknya bila kita melakukan hal jahat, maka kita akan menuai hasil jelek dari perbuatan kita.

Dalam melakukan perbuatan baik, keikhlasan adalah hal yang sangat penting, ”Berikan dan Lupakan”. Kalau kita melakukan hal baik kepada orang lain, sesungguhnya kita sedang berbuat baik pada diri sendiri. Hal yang sama juga ditulis Dalai Lama dalam bukunya The Art Of Happiness, yang menekankan pentingnya keikhlasan dalam setiap perbuatan kita.

Bila ikhlas sudah menjadi jiwa kita, maka hidup akan benar-benar indah. Keindahan hidup bukanlah dari apa yang kita miliki, melainkan tergantung pada cara kita melihat. Kalau kita melihat hidup dari jendela keindahan, hidup akan terlihat indah. Sebaliknya kalau jendela itu kotor dan bahkan rusak, hidup pun juga akan terlihat kotor dan bahkan rusak.

Agar hidup terasa indah dan penuh anugerah, kita harus senantiasa melihat segala sesuatu dengan fikiran positif dan hati yang bersih. Kegagalan, ketidaknyamanan dan penderitaan bisa menjadi cambuk untuk terus maju bagi orang yang bisa berfikiran positif, sebaliknya bisa stres dan bahkan berbuah musibah bagi orang yang berfikiran negatif.

Pada zaman sekarang, dimana banyak orang menganggap uang sebagai benda yang sangat penting maka diperlukan paradigma yang benar dalam melihat kehidupan. Jadilah ”Human Being” dan bukan ”Human Having”, dan janganlah mengandalkan uang, jabatan dan kekuasaan sebagai sumber kebahagiaan, sebaliknya ubahlah jiwa kita sendiri sebagai sumber kebahagiaan. Akhirnya kita bisa benar-benar merasakan La Vita est Bella, Hidup itu Indah !

Notes : Alhamdulillah kemarin hari jum'at 29 Januari 2010 di Kantor Vrto (tempatnya Mas Andi & Mbak Layla) telah terbentuk 3 kelompok Mastermind Khadijah TDA Surabaya. Semoga sukses dan selalu dalam ridho-Nya. Amiin.

Wassalam
Naritha Vermasari
Dienazty Fashion | Busana Muslimah Attaqi

Create your own banner at mybannermaker.com!