6.09.2010

Komunitas Mastermind Super Khadijah yang Khusus Beranggota Perempuan


Bertemu Bukan untuk Arisan, tapi Berbagi Ilmu Bisnis

Berawal dari ketertarikan terhadap bisnis, tujuh perempuan ini membentuk komunitas. Tiap dua pekan, mereka bertemu dan berbagi ilmu tentang dunia usaha.

ANY RUFAIDAH (wartawan Jawa Pos)

"Kami tidak arisan." Kalimat tersebut ditegaskan berulang-ulang oleh Lusi Agustina Harjanto, salah seorang anggota Super Khadijah, saat membuka pembicaraan dengan Jawa Pos mengenai aktivitas komunitas saat ditemui di sebuah restoran cepat saji pada 21 Mei lalu.

Menurut Lusi, perempuan yang kumpul bareng selalu diidentikkan dengan arisan. "Tidak berarti arisan itu negatif. Tapi, kami memang pure berkumpul untuk berbagi ilmu bisnis," jelas perempuan yang tengah giat mengembangkan bisnis kaus anak-anak tersebut.

Pertemuan ala komunitas Super Khadijah itu cukup khas. Setiap dua pekan, mereka berkumpul di kafe atau rumah salah seorang anggota. Pertemuan sengaja dibatasi dua jam agar pembicaraan tidak ngalor ngidul. "Kami keluar meninggalkan keluarga dan bisnis. Jadi, apa yang kami lakukan harus menghasilkan. Setiap menit dihitung," ujar Lusi yang lebih banyak bertindak sebagai juru bicara komunitas tersebut.

Sebelum pertemuan dimulai, mereka memiliki ritual khusus. Yakni, bersama-sama mengucapkan ikrar yang terdiri atas empat poin. Kemudian diakhiri dengan pernyataan I can because I believe I can atau saya bisa karena saya percaya bisa. Ikrar tersebut bertujuan meningkatkan rasa percaya diri sekaligus semangat untuk terus mengembangkan usaha masing-masing.

Setelah itu, setiap anggota mengungkapkan problem apa saja yang dihadapi bisnisnya atau kemampuan khusus yang ingin ditingkatkan. "Yang paling baru, kami belajar bikin blog untuk produk," terang Lusi.

Mereka tidak hanya mengandalkan bisnis secara real. Tetapi, juga online. Dengan demikian, pasar yang terbuka akan semakin luas, termasuk jangkauan wilayahnya.

Rencananya, mereka ingin menularkan kemampuan tersebut ke perempuan lain di luar anggota komunitas Super Khadijah. Salah satu caranya adalah membuka pelatihan bisnis serta pemanfaatan teknologi informasi. "Kami memang bertujuan empowering. Memberdayakan perempuan biar bisa mandiri," tegas Lusi. Hanya, belum dibicarakan secara detail mengenai pelaksanaannya.

Meski lebih banyak membicarakan bisnis, masalah rumah tangga juga ikut menjadi bahasan. Misalnya, memilihkan sekolah untuk anak atau menghadapi pembantu. Di antara tujuh perempuan, hanya Deedee Moels dan Nuraini Madjid yang belum berumah tangga. "Tetap jadi bumbu, tapi bukan yang utama. Bukan curhat ya, tapi lebih minta masukan untuk cari solusi," kata Lusi.

Para perempuan itu bertemu melalui mailing list (milis) Tangan di Atas. Itu adalah komunitas bisnis yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Karena sering kontak dan berbagi ide melalui milis tersebut, para pebisnis perempuan di Surabaya sepakat untuk kopdar alias kopi darat. Dari sekian banyak anggota, terbentuklah beberapa kelompok, salah satunya Super Khadijah.

Super Khadijah dibentuk pada Desember tahun lalu. Awalnya, hanya lima orang yang tergabung. Mereka adalah Naritha Vermasari, Laila Asri, Rahma Sinseria, Deedee Moels, dan Nuraini Madjid. Lusi dan Nurhandayani kemudian tertarik. Namun, mereka tidak bisa langsung menjadi anggota. Mereka harus menjadi visitor (peninjau) terlebih dahulu. Datang ke beberapa kali pertemuan, setelah semua merasa nyaman, baru mereka bisa bergabung.

Kelompok itu tidak mengenal usia. Mulai belasan tahun hingga 40 tahun. Nuraini atau sering disapa Nungki menjadi anggota termuda. Cewek 19 tahun itu mengatakan tak canggung harus bergaul dengan mereka yang jauh lebih tua. Alumnus SMKN 6 itu malah merasa nyaman. "Kalau lagi ngumpul sama teman seusia, malah bingung. Gak nyambung," ujar cewek yang ditunjuk sebagai ketua Super Khadijah tersebut.

Meski sama-sama pengusaha, bidang yang ditekuni berbeda. Lusi, misalnya. Ibu dua anak tersebut awalnya merintis usaha di bidang kotak hantaran. Setelah sukses, dia menjajal bisnis lain, yakni kaus anak. Sementara itu, Naritha Vermasari tidak hanya berprofesi sebagai dokter. Nita, begitu dia disapa, juga menjadi distributor busana muslim dewasa serta pakaian renang muslim.

Menjadi distributor juga dipilih Nurhandayani. Perempuan yang awalnya berkarir di dunia perbankan itu menganggap bisnis sendiri lebih menguntungkan.

Yang dilakukan Deedee Moels agak berbeda. Alumnus Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta, itu memilih dunia tulis-menulis. Bukan produk yang dijual Deedee, melainkan ide kreatif tentang menjual produk melalui tulisan.

Kemudian, Laila Asri lebih banyak mengembangkan bisnis kosmetik yang diproduksi sendiri bersama sang suami. Lalu ada Rahma Sinseria yang lebih suka berbisnis kopi. Perempuan asal Malang itu bahkan sudah memiliki banyak gerai yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Anggota lain, Nungki, menekuni dunia desain busana dengan berbekal ilmu dari beberapa sekolah fashion designer di Surabaya.

Bisa dibilang mereka adalah pengusaha murni. Maksudnya, mereka merintis bisnis sendiri tanpa bantuan suami. Malah yang terjadi, suami ikut tertarik dan bergabung. Seperti yang dialami Lusi. Suami yang menduduki posisi cukup tinggi di salah satu perusahaan clothing itu rela melepas jabatannya demi membantu sang istri mengelola usaha yang kian berkembang.

Menurut Lusi, banyak keuntungan yang diperoleh perempuan saat menjadi pengusaha. Salah satunya, banyak waktu yang bisa dimanfaatkan dengan keluarga. "Malah anak-anak sekarang ketularan. Mereka ikut belajar bisnis juga," kata ibunda Alifia Kamila Jasmine P.H. dan Raffly Virgie Rasyadan P.H. itu lantas tertawa. (*/c7/aww)

Notes :
Postingan ini adalah cerita tentang saya dan teman-teman yang tergabung dalam MasterMind SuperKhadijah yang dimuat di Jawa Pos edisi Selasa 8 Juni 2010 di halaman Metropolis.

Trimakasih kepada saudaraku di Mastermind SuperKhadijah. I Love u full :) Semoga sukses selalu untuk keluarga dan bisnisnya. Aamiin.

1 comment:

kiki said...

Semoga MM superkhadijah bisa terus exist dan tetap berkarya

Create your own banner at mybannermaker.com!